Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd: 11)
Namun tadi pagi saya mendapat pelajaran baru… yaitu mengenai kesigapan dalam mengambil peluang, khususnya peluang tuk beramal.
Saya baru ngeh, bahwa ternyata mitos “kesempatan hanya datang sekali seumur hidup” itu bisa menjadi suatu hal yang benar dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama jika berhubungan dengan aspek ibadah atau peluang tuk beramal. Dibutuhkan orang-orang yang gesit, sigap, dan pro aktif dalam hal urusan mengambil peluang beramal.
Makanya, prinsip utama dalam hal ibadah adalah “fastabiqul khairat” atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebuah iklim kompetisi yang mengharuskan kita tuh bersaing dan berebutan amalan. Sebuah nuansa dimana dibutuhkan kesadaran diri, keawasan pikiran, kemauan sikap, dan kecepatan amalan.
Kalau kita tidak mau mengambil peluang beramal tersebut, maka sudah pasti, dan saya menyakini benar hal ini, bahwa amalan tersebut tetap akan ada yang mengerjakannya.
Bukankah Allah juga pernah berfirman mengenai pergantian orang-orang murtad dengan generasi yang lebih baik lagi.
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah: 54)
Maka dari itu, jika peluang atau kesempatan beramal sedang “ditawarkan” dihadapan kita, ambillah dan raihlah secepatnya. Agar tidak hilang kesempatan beramal sekali seumur hidup kita.
Untuk “amalan-amalan yang kecil”, juga berlaku hal yang sama, ketika ada peluang tuk memindahkan gangguan dari jalanan, ketika ada peluang tuk menyebrangkan orangtua di jalan yang padat, ketika ada kesempatan tuk memberikan tempat duduk kepada wanita/ibu-ibu di kendaraan umum, ketika ada celah tuk bisa membantu meski hanya dengan sekedar mendengarkan dengan hati dan memberikan wajah yang cerah, cobalah tuk dilakukan.
Karena sangatlah mungkin, kesempatan itu tidak akan datang dua kali, dan akan ada orang lain yang akan mengambilnya, dan ketika tiba masa itu, kita hanya bisa menggigit jari menyesali suatu perkara “sepele” yang mungkin bisa mendatangkan keuntungan yang besar.
Seorang salafus shalih, Abdullah Ibnu Mubarrak pernah berkata, ada amalan-amalan kecil yang menjadi besar karena niatnya, dan ada amalan-amalan besar yang menjadi kecil karena niatnya.
Semoga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal sekali seumur hidup itu lagi.
bagus ade
BalasHapusteruslah berkarya
kk ...............senang baca tulisan ade